Bob Marley

Rabu, 21 Agustus 2013

Penyebab Krisis Ekonomi Eropa



Krisis keuangan Eropa telah mengancam perekonomian dunia. Krisis yang menakutkan dunia itu berakar pada kegagalan Uni Eropa untuk memperbaiki perbankan. Sebenarnya perekonomian Eropa belum sepenuhnya sembuh kembali dari krisis 2007 dan tidak pernah sepenuhnya menangani semua tantangan yang dihadapi sistem perbankan mereka. Salah satu faktor penting terjadinya krisis keuangan Eropa adalah faktor krisis utang di negara Yunani.

Krisis utang Eropa berasal dari Yunani, yang kemudian merembet ke Irlandia dan Portugal. Ketiga negara tersebut memiliki utang yang lebih besar dari GDP-nya, dan juga sempat mengalami defisit (pengeluaran negara lebih besar dari GDP). Krisis mulai terasa pada akhir tahun 2009, dan semakin seru dibicarakan padapertengahan tahun 2010. Pada tanggal 2 Mei 2010, IMF akhirnya menyetujui paketbail out (pinjaman) sebesar €110 milyar untuk Yunani, €85 milyar untuk Irlandia,dan €78 milyar untuk Portugal. Kemudian kekhawatiran akan terjadinya krisis punberhenti sejenak. Efek dari krisis Eropa ini cukup berdampak kepada IHSG, yangketika itu anjlok besar-besaran dari posisi 2,971 ke posisi 2,514.

Yunani kemungkinan merupakan buah dari kesalahan kebijakan pemerintahan di masalalu. Pada tahun 1974, Yunani memasuki babak baru pemerintahan, dari juntamiliter menjadi sosialis. Pemerintah baru ini kemudian mengambil banyak utanguntuk membiayai subsidi, dana pensiun, gaji PNS, dll. Utang tersebut terus sajamenumpuk hingga pada tahun 1993, posisi utang Yunani sudah diatas GDP-nya, dansampai sekarang pun masih demikian. Saat ini utang Yunani diperkirakan telahmencapai 120% dari posisi GDP-nya, dimana banyak analis yang memperkirakan bahwadata yang sesungguhnya kemungkinan lebih besar dari itu.

Hingga awal tahun 2000-an, tidak ada seorang pun yang memperhatikan fakta bahwa utang Yunani sudah terlalu besar. Malah dari tahun 2000 hingga 2007, Yunani mencatat pertumbuhan ekonomi hingga 4.2% per tahun, yang merupakan angka tertinggi dizona Eropa, hasil dari membanjirnya modal asing ke negara tersebut. Keadaanberbalik ketika pasca krisis global 2008 dimana negara-negara lain mulai bangkitdari resesi, dua dari sektor ekonomi utama Yunani yaitu sektor pariwisata danperkapalan, justru mencatat penurunan pendapatan hingga 15%. Orang-orang punmulai sadar bahwa mungkin ada yang salah dengan perekonomian Yunani.

Keadaan semakin memburuk ketika pada awal tahun 2010, diketahuibahwa Pemerintah Yunani telah membayar Goldman Sachs dan beberapa bank investasilainnya, untuk mengatur transaksi yang dapat menyembunyikan angka sesungguhnyadari jumlah utang pemerintah. Pemerintah Yunani juga diketahui telah mengutakatik data-data statistik ekonomi makro, sehingga kondisi perekonomian merekatampak baik-baik saja, padahal tidak. Pada Mei 2010, Yunani sekali lagi ketahuantelah mengalami defisit hingga 13.6%. Salah satu penyebab utama dari defisit tersebut adalah banyaknya kasus penggelapan pajak, yang diperkirakan telahmerugikan negara hingga US$ 20 milyar per tahun.

Ketika IMF memberikan pinjaman, IMF mengajukan beberapa syarat penghematan anggaran kepada Pemerintah Yunani. Diantaranya pemotongan tunjangan bagi PNS dan pensiunan, peningkatan pajak PPN hingga 23%, peningkatan cukai pada barang-barang mewah, bensin, rokok, dan minuman beralkohol, hingga perusahaan BUMN harus dikurangi dari 6,000 menjadi 2,000 perusahaan saja. Tentu saja kebijakan ini sangat sulit untuk diterapkan.

Pada bulan yang sama, ketika Pemerintah Yunani mengumumkan kebijakan penghematan anggaran, rakyat Yunani langsung menggelar unjuk rasa besar-besaran di Athena untuk menolak kebijakan tersebut. Hingga kini, belum ada kepastian mengenaiapakah Pemerintah Yunani berhasil dalam menerapkan berbagai kebijakan diatasatau tidak. Salah satu lembaga pemeringkat utang terkemuka, Moody’s, masihmenetapkan rating utang Yunani pada salah satu level terendah, yaituCCC.

Tantangan yang begitu hebat dihadapi para pemimpin Eropa, sejak bangkrutnya Yunani, disusul Irlandia, Spanyol, merembet ke Itali, Inggris, dan terakhir melanda Perancis, yang masuk ke jurang krisis akibar utang. Perancis nasibnya sama seperti Amerika Serikat yang telah diturunkan peringkat rating kreditnya dari AAA menjadi AA+. Perancis yang mempunyai utang yang setara dengan 95 % PDB nya, sudah tidak lagi mampu mengatasinya.

Tidak banyak pilihan yang bisa dilakukannya, kecuali hanya dengan memotong defisit anggaran, dan itu pasti akan membawa malapetaka kepada krisis politik dan sosial. Ujungnya terjadinya pemberontakan rakyat. Presiden Perancis Nicolas Sarkozy dan Kanselir Jerman Angela Merkel mengumumkan langkah-langkah kebijakan mengatasi krisis utang, tetapi tidak mempunyai dampak positif di pasar. Bursa saham di Uni Eropa terus berguguran sampai titik yang paling rendah.

Investor berharap langkah-langkah yang lebih konkret untuk menstabilkan kondisi keuangan pemerintah yang gemetar menghadapi krisis utang sekarang ini. Mereka ingin melihat peningkatan besar dalam jumlah dana stabilitas Uni Eropa dan banyak yang menyerukan penciptaan kerjasama diantara negara-negara yang menggunakan mata uang Euro.

Penulis: Ivan Teofilus
- See more at: http://mss-feui.com/?p=605#sthash.erMQ1RaY.dpuf

Direktur Pelaksana Bank Dunia: Depresisasi Rupiah Dapat Diantisipasi dari Dua Indikator




Jakarta, 21/08/2013 MoF (Fiscal) News - Depresiasi nilai tukar rupiah yang terjadi akhir-akhir ini dapat berasal dan diantisipasi dari dua indikator. Menurut Direktur Pelaksana Bank Dunia Sri Mulyani Indrawati, kedua indikator tersebut yaitu indikator sentimen dan indikator fundamental. "Indikatornya bisa sentimen dan bisa juga fundamental. Jika sentimen bisa diatasi oleh pesan pemerintah dari sisi kejelasan arah kebijakan, baik dari otoritas fiskal, moneter, menko perekonomian hingga presiden," jelasnya.

Ada beberapa indikator sentimen yang menyebabkan rupiah terus terdepresiasi, salah satunya berasal dari pelemahan ekspor, terutama dari sisi volume. Pihaknya mengatakan, kondisi ekspor RI memang tergantung dari pasar global juga, salah satunya China. "Kondisi pelemahan ekonomi China akan menyebabkan export driven tidak bisa lagi menjadi andalan. Tapi kalau mau mengubah menjadi demand driven, tidak berarti bisa otomatis, sebab ada implikasi ke neraca perdagangan yang juga berdampak ke nilai tukar," imbuhnya.

Menurunya kinerja ekspor RI, menurutnya, telah menggerus neraca pembayaran Indonesia. Neraca pembayaran tersebut merupakan indikator fundamental yang mendorong terjadinya pelemahan rupiah belakangan ini. Ia mengungkapkan, selain kondisi neraca pembayaran, indikator fundamental juga dapat berasal dari kondisi fiskal, kondisi moneter, dan kondisi sektor keuangan. "Pemerintah perlu menjelaskan apakah fundamentalnya terjaga dengan baik. Sementara, dari sektor keuangan, OJK (Otoritas Jasa Keuangan) sudah menjelasakan bahwa kondisi mereka baik," ucapnya.(ak)

ASUMSI MAKRO APBN-P 2013


Asumsi Makro APBN-P 2013

Asumsi Makro APBN-P 2013
Pertumb. Ekonomi (%) 6,3
Inflasi (%) 7,2
Kurs (USD/Rp) 9.600
SPN 3 bln (%) 5,0
Harga Minyak (USD/barel) 108
Lifting Minyak (ribu barel/hari) 840
Lifting Gas (ribu barel/hari setara minyak) 1.240

Source: UU No 15 Thn 2013 tentang APBNP 2013