Impian saya untuk berada di kota megapolitan sampe sekarang masih berasa ada, angan-angan untuk menikmati Indah kota megapolitan terus masih terngiang-ngiang di mata.. ya, setiap kali kalau ngeliatin tv yang ada visualisasinya menunjukkan keindahan fisik kota yang menggiyurkan, rasanya saya ingin langsung berada di sana.. menikmati suasana dengan tanpa menggunakan kendaraan alias sebagai pedestrian yang terus berjalan sambil menikmati etalase yang ada dipinggir- pinggir toko..
sekarang saya harus mensyukuri hidup saat ini yang tengah saya jalani, hidup yang saat ini berada di bawah kelas megapolitan, yakni saya menginjak kaki di atas kota metropolitan, Ibu kota Provinsi Sumatera selatan, Palembang namanya.. kota yang dikenal dengan kota Pempek ini tidak terlalu asing bagi saya, karena Dulunya semasa saya masih tinggal di bagian wilayah provinsi sumsel juga, dimana tempat saya dilahirkan dan tumbuh dewasa ( Lubuklinggau), saya masih sempet buat kunjung ke palembang, hanya sekedar jalan-jalan dan merefreshkan pikiran yang jenuh yang selama ini terselimuti tugas-tugas kantor,.. itulah salah satu biar bisa bersikap adil terhadap raga yang kumiliki dengan apa yang aku kerjakan.. takutnya raga ini akan cemburu karena dibawa kerja terus.. :D
Semakin lama saya berada di kota ini, semakin hari saya mendapati kemacetan, yang akibatnya bikin saya agak terlambat masuk kerja, dan kemana-mana juga sampenya agak telat yang tidak bisa diprediksi.. :( kemacetan yang terus berkembang, diakibatkan meningkatnya volume kendaraan yang diproduksi oleh perusahaan otomotif, dengan otomatis meningkat juga jumlah masyarakat yang menggunakan kendaraan, baik motor maupun mobil. sementara fasilitas yang di berikan oleh pemerintah kota palembang yakni Trans Musi atau lebih dikenal dengan TM, tidak terlalu banyak yang menaikinya... padahal pemerintah ingin membantu masyarakat agar untuk tidak terkena dampak dari kemacetan..
berdasarkan survei yang saya tanya kepada salah satu konduktor TM, Bapak Rasyid namanya, beliau mengatakan pertama kali diLaunchingnya TM ini, masyarakat Palembang sangat antusias sekali naik Trans Musi, tapi lama kelamaan jumlah penumpang TM mengalami penurunan..
dan Pak Rasyid tidak tahu apa yang menyebabkan menurunnya penumpang TM, Pak Rasyid tidak mau ambil pusing, dia tidak terlalu peduli dengan kejadian ini, karena beliau berpikir, sepi atau gak sepinya penumpang, beliau pun tetap digaji..
dengan kesadaran masyarakat yang terus berkurang untuk menggunakan TM kalu mau pergi kemana-mana, mereka lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi mereka, hal ini akan berdampak negatif terhadap lingkungan, itu artinya mereka lebih mendukung asap yang terus mengepul dari kendaraan mereka setiap hari... kita tahu sendirikan asap yang keluar dari motor dan mobil, bahayanya seperti apa??
Kalu 80 persen masyarakat kota palembang yang setiap harinya mengeluarkan kepulan asap dari kendaraan mereka, apa yang terjadi coba??
dan ini mungkin tidak terjadi di kota palembang, di kota-kota besar sepertinya juga sama dengan kondisi seperti.. tapi kalu sudah di kasih pemerintah TM, ya setidaknya kita manfaatkan, sayang sekali kalu sampe tidak dimanfaatkan... ehmm.
Hari ini saya mencoba untuk menjadi Pedestrian, ini awal kalinya saya mencoba untuk berjalan kaki..saya ngelewati di Pinggir-pinggir toko, walaupun agak terasa panas tapi hal ini saya lakukan demi mendukung Lingkungan yang baik.. setidaknya saya mengurangi kepulan asap yang keluar dari knalpot motor yang biasa saya pakai walaupun itu sedikit tapi sangat berarti..
Kalau kita mau menyadarkan orang lain untuk berbuat kebaikan dan untuk peduli kepada lingkungan, setidaknya dari diri kita sendiri dulu yang memberi contoh..
Berharap suatu saat saya ingin memiliki sebuah komunitas bagi para pedestrian.. Amin
Mari kita selamatkan bumi pertiwi ini!!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar